LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
ALGA
Dosen
Pengampu :
1.
Drs. Sulisetjono, M.Si
2.
Ainun Nikmati Laily, M.Si
Oleh
;
Novi Ainiatus Sholihah M
11620027
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS dan
TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM
NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan Negara yang memiliki
keanekaragaman hayati yang melimpah baik flora maupuan fauna, keanekaragaman
hayati dapat memberikan manfaat bagi masyarakat, diantaranya dapat
memenuhi kebutuhan manusia yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin
dan mineral. Protein sebagai salah satu sumber pembagun tubuh dapat berasal
dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani).
Dalam mengetahui klasifikasi, taksonomi,
kekerabatan dan asal-usul suatu makhluk hidup diperlukan sistematika. Disini
kami khusus mempelajari tumbuhan Cryptogamae. Tumbuhan Cryptogamae adalah
tumbuhan tingkat rendah yang alat perkembiakannya tersembunyi dan reproduksinya
dengan spora. Sehingga sistematika yang kami pelajari yaitu sistematika
Tumbuhan Cryptogamae. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yaitu di dalamnya
terdapat klasifikasi, taksonomi, kekerabatan, asal-usul tumbuhan Cryptogamae. Ilmu yang mempelajari teori dan prinsip, prosedur dan peraturan klasifikasi
disebut dengan toksonomi.
Secara khusus penelitian
ini membahas tentang ganggang (alga). Tumbuhan ganggang (Algae) merupakan
tumbuhan talus yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut,
setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah.
Tumbuhan talus ialah tubuh
tumbuhan yang belum dapat dibedakan dalam tiga bagian utamanya, yang disebut
akar, batang dan daun. Tubuh yang berupa talus itu mempunyai struktur dan
bentuk dengan variasi yang sangat besar. Tumbuhan yang memiliki ciri utama
berbentuk talus dimasukkan ke dalam Divisi Thallophyta.
Untuk
mempelajari Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yang dalam hal ini Divisi
Algae, baik secara morfologi maupun habitat, perlu diadakannya pengamatan
secara langsung terhadap objek yang akan diteliti dengan KKL (Kuliah Kerja
Lapangan), sehinggga mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengidentifikasi baik
ciri–ciri mofologi (penampakan luar) maupun habitatnya, dalam hal ini maka
Kuliah Kerja Lapangan dengan mengamati spesies–spesies tumbuhan dari Divisi
Algae di Pantai Selatan yang dikenal dengan Pantai Kondangmerak sebagai Kuliah
Kerja Lapangan (KKL) secara terorganisir.
Pentingnya dilakukannya Kuliah
Kerja Lapangan (PKL) Sistematika Tumbuhan Cryptogamae secara terorganisir
adalah agar mahasiswa mengetahui tumbuhan-tumbuhan tingkat rendah dari Sub
Divisi Algae secara langsung untuk diamati bagian-bagian dan ciri-ciri
khususnya kemudian digunakan sebagai acuan dalam mengidentifikasi. Selain itu
agar mahasiswa mengetahui warna, bentuk dan habitat asli dari Sub Divisi Algae karena
pada waktu praktikum di laboratorium warna dan bentuk preparat sudah berubah
karena sudah diawetkan, sehingga kami harus melihat preparat yang morfologi dan
habitat dalam bentuk aslinya.
Kuliah kerja Lapangan
terorganisir dilaksanakan di Kondangmerak Pantai
Selatan. Pemilihan tempat ini karena wilayah yang relatif terdekat dengan
kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan sebagai
pantai yang masih memilliki keanekaragaman tumbuhan algae yang relatif lengkap dengan
berbagai macam spesies-sesies karena wilayahnya yang masih lestari dan belum
banyak terjamah tangan manusia.
1.2 Tujuan
Tujuan dari penelitian kuliah
kerja lapangan ini adalah sebagai :
Studi lapangan
beranekaragam alga yang berhabitat di zona pasang surut Pantai Kondangmerak
Malang Selatan
1.3 Manfaat
Manfaat-manfaat yang dapat
di ambil dari penelitian kuliah kerja lapangan ini adalah :
1. Untuk mengetahui dalam mempelajari
morfologi dan kedudukan taksonomi dari Sub Divisi Algae.
2.
Untuk mengenal species yang termasuk dalam Divisi Algae dengan cara
mendiskripsikan ciri-ciri pada spesies tersebut.
3. Dapat mengerti secara langsung habitat
dari tumbuhan algae dan bagaimana cara tumbuhan algae untuk bertahan hidup
BAB II
METODOLOGI
2.1 Waktu dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu
Tanggal 17-18 November 2012 Di Kondangmerak Pantai Malang Selatan.
2.2 Alat dan Bahan
2.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam kuliah kerja
lapangan (KKL) ini adalah :
1.
Alat tulis
2.
Alat dokumentasi
3.
Ice box
4.
Toples
2.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam kuliah kerja
lapangan (KKL) ini adalah :
1.
Es
2.
Label
3.
Larutan Herbarium
2.2.3 Cara
Kerja
Langkah-langkah
kerja yang dilakukan dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.
Menyiapkan alat yang diperlukan saat praktikum
dan memastikan bahwa peralatan yang digunakan masih berfungsi normal.
2.
Menguasai cara penggunaan alat.
3.
Mendengarkan instruksi dan arahan dari asisten
/ dosen pendamping.
4.
Pengambilan spesimen :
1.
Berjalan ke lokasi pengambilan specimen dengan
hati-hati secara berkelompok dengan didampingi oleh asisten pendamping yang
telah ditetapkan.
2.
Mengamati specimen yang ditemukan dan mencatat
ciri-cirinya. (meliputi: suhu, pH tanah dan kelembapan, kelembapan udara,
ketinggian tempat, habitat, habitus/ perawakan) dengan cermat serta mencatat
namanya.
3.
Mengambil gambar specimen dengan kamera yang
ditemukan pada tempat melekatnya atau substrat.
4.
Memberi label tertentu dan mencatat
ciri-cirinya pada specimen yang tidak diketahui namanya.
5.
Memasukkan specimen seperti jamur, lumut ke
dalam vacuum box, dan tumbuhan paku ke dalam kantung plastik.
6.
Pengidentifikasian :
1.
Direndam alga di dalam larutan fiksatif yang
telah ditambah larutan tembaga sulfat
2.
Direndam selama 48 jam dalam larutan fiksatif
(untuk menfisasi)
3.
Ditambahkan larutan tembaga sulfat untuk
mempertahankan warna yaitu tembaga sulfat 0,2 gram dan aquades 35 ml
4.
Diisi toples dengan alcohol 70 % sebagai
pengawet
5.
Dimasukkan alga
6.
Di tutup toples
7.
Hasil
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.1
Actinotrichia
fragilis (Forsskal)
Gambar pengamatan
|
Gambar literature
|
(Hadiansya,2010)
|
3.1.1 Keterangan
Gambar
:
1.
Thallus bulat mengeras permukaan kasar
2.
Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan
dichotomus (mendua arah)
3.
Melekat pada substrat
4.
alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk
cakram
5.
Warna merah muda orange atau kadang-kadang
pirang.
3.1.2
Klasifikasi Ilmiah (Hadiansya, 2010) :
Kingdom Plantae
Divisi
Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Bangsa Nemaliales
Suku Galaxauraceae
Marga Actinotrichia
Jenis Actinotrichiafragilis
3.1.3 Pembahasan
Dalam kuliah kerja lapangan di Pantai
Kondangmerak ini di dapatkan banyak sekali spesies-spesies alga yang dapat
dijumpai, d antara sspesies-spesies yang dapat dijumpai tersebut adalah Actinotrichia
fragilis. Cirri-ciri morfologi dari spesies alga ini adalah Thallus bulat
mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus
(mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil
berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang.
Menurut Fitria (2010), Actinotrichia fragilis memiliki Thallus
bulat mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan
dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast)
yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang.
Habitat Actinotrichia fragilis ini Tumbuh
pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang umumnya
selalu terendam air (subtidal). Mempunyai
sebaran yang luas. Contoh negara yang menjadi daerah penyebaran Actinotrichia
fragilis (Forsskal) anatara lain adalah Djibouti, Jepang, Kenya, Madagascar, Mauritius,
Reunion, Africa Selatan, Tanzania, Piliphina, Samudra Pasifik. Warna awal
adalah merah setelah pengawetan menjadi cokelat muda (Lativah,2004).
Sejauh
ini dari berbagai sumber yang telah dibaca Actinotrichia fragilis (Forsskal) masih belum ada yang memanfaatkan spesies ini. Karena
mungkin belum ada yang mempelajari speises ini lebih jauh.
Actinotrichia fragilis
berupa ganggang merah dengan cabang sebesar 1 mm. Ganggang ini memiliki panjang
mencapai 6 cm. Ganggang ini hidup pada batu karang yang terletak dibagian laut
yang lebih dalam. Actinotrichia di manfaatkan sebagai bahan makanan manusia,
makanan ternak, sumber protein, dan sebagai obat antibiotik (Estiati,1995).
Actinotrichia
fragilis merupakan salah satu spesies dari
divisi Rhodophyta. Rhodophyta memiliki
thallus yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel
tunggal. Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida
yang mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil,
fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat
banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan ganggang ini berwarna merah (Suroso,1992).
Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali
fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat
mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke
klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses
fotosintesis (Atmadja,1996).
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu
suatu karbohidrat dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam
sitoplasma dan di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula
floridasida galaktosida dan gliserol (Fitria,2010).
Dinding sel terdiri dari selulosa dan
polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan
yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini
sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan
stabilizer (Latifah,2004).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual,
yaitu dengan cara membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi
seksualnya belum banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya
terdapat reproduksi aseksual dan seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini
tidak berflagel yang disebut spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa
oleh arus air, kemudian melekat pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah
itu inti dari masing-masing sel kelamin bersatu dan membentuk zigot (Latifah,2004).
3.2 Amphiroa beauvoisii Lamouroux
|
Gambar pengamatan
|
Gambar literature
|
![]() |
![]()
(Hadiansya,2010)
|
3.2.1 Keterangan
Gambar
:
1.
Alge tumbuh tegak
2.
melekat pada substrat dengan semacam serabut
cakram
3.
warna merah
4.
tinggi kurang dari 10 cm
5.
Thalli mengalami pengapuran yang tebal
6.
tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk
seperti manik-manik
3.2.2
Klasifikasi Ilmiah (Hadiansya, 2010) :
Kingdom Plantae
Divisi
Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Bangsa Cryptonemiales
Suku Corallinaceae
Marga Ammphiroa
Jenis Amphiroa
beuviosii
3.2.3
Pembahasan
Dalam kuliah kerja lapangan di Pantai
Kondangmerak ini di dapatkan banyak sekali spesies-spesies alga yang dapat
dijumpai, d antara sspesies-spesies yang dapat dijumpai tersebut adalah Amphiroa beuviosii. Cirri-ciri morfologi dari spesies alga ini
adalah Ciri-ciri umum. Alge tumbuh tegar melekat pada substrat dengan semacam
serabut cakram, warna merah, tinggi kurang dari 10 cm. Thalli mengalami
pengapuran yang tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti
manik-manik, semakin ke ujung semakin meruncing.
Habitat Amphiroa beuviosii Hidup di zona pasang surut bagian tengah
hingga subtidal. Menempel pada batu karang atau pecahan karang mati. Sering sebagai
alge asosiasi pada padang Halimeda. Sebaran. Asli sebagai alge tropis. Mudah
ditemukan di perairan kepulauan Nusantara (Fitria,2010).
Amphiroa
beuviosii merupakan
salah satu spesies dari divisi Rhodophyta. Rhodophyta memiliki thallus
yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel tunggal.
Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida yang
mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil,
fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat
banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan
ganggang ini berwarna merah (Suroso,1992).
Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali
fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat
mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke
klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses
fotosintesis (Atmadja,1996).
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu
suatu karbohidrat dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam
sitoplasma dan di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula
floridasida galaktosida dan gliserol (Fitria,2010).
Dinding sel terdiri dari selulosa dan
polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan
yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini
sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan
stabilizer (Latifah,2004).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual,
yaitu dengan cara membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi
seksualnya belum banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya
terdapat reproduksi aseksual dan seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini
tidak berflagel yang disebut spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa
oleh arus air, kemudian melekat pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah
itu inti dari masing-masing sel kelamin bersatu dan membentuk zigot
(Latifah,2004).
|
Gambar pengamatan
|
Gambar literature
|
![]() |
![]()
(Hadiansya,2010)
|
3.1.1
Keterangan Gambar :
1.
Thallus kenyal berbentuk lembaran
2.
Tepi Thallus bergerigi
3.
Melekat pada substrat
4.
alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk
cakram.
5.
Berwarna merah dan berubah warna menjadi coklat
bila telah mengalami pewarnaan
3.1.2
Klasifikasi Ilmiah (Hadiansya, 2010) :
Kingdom Plantae
Divisi Rhodophyta
Kelas
Florydeophyceae
Bangsa Gigartinales
Suku Cystocloniaceae
Marga Challiblepharis
Jenis Challiblepharis
fimbriata
3.1.3 Pembahasan
3.1.3 Pembahasan
Dalam kuliah kerja lapangan di Pantai
Kondangmerak ini di dapatkan banyak sekali spesies-spesies alga yang dapat
dijumpai, diantara sspesies-spesies yang dapat dijumpai tersebut adalah Challiblepharis
fimbriata.
Ciri-ciri morfologi dari alga ini adalah Thallus kenyal berbentuk lembaran, Tepi
Thallus bergerigi, Melekat pada substrat, alat tempel (holdfast) yang kecil
berbentuk cakram, Berwarna merah dan berubah warna menjadi coklat bila telah
mengalami pewarnaan.
Habitat Challiblepharis
fimbriata
ini Tumbuh pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang
umumnya selalu terendam air (subtidal). Mempunyai
sebaran yang luas. Contoh negara yang menjadi daerah penyebaran Challiblepharis
fimbriata (Forsskal) anatara lain adalah
Djibouti, Jepang, Kenya, Madagascar, Mauritius,
Reunion, Africa Selatan, Tanzania, Piliphina, Samudra Pasifik. Warna awal
adalah merah setelah pengawetan menjadi cokelat muda (Lativah,2004).
Sejauh
ini dari berbagai sumber yang telah dibaca Challiblepharis fimbriata (Forsskal)
masih
belum ada yang memanfaatkan spesies ini. Karena mungkin belum ada yang
mempelajari speises ini lebih jauh.
Challiblepharis fimbriata berupa ganggang merah dengan cabang sebesar 1 mm. Ganggang ini
memiliki panjang mencapai 6 cm. Ganggang ini hidup pada batu karang yang
terletak dibagian laut yang lebih dalam. Actinotrichia di manfaatkan sebagai
bahan makanan manusia, makanan ternak, sumber protein, dan sebagai obat
antibiotik (Estiati,1995).
Actinotrichia
fragilis merupakan salah satu spesies dari
divisi Rhodophyta. Rhodophyta memiliki
thallus yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel
tunggal. Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida
yang mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil,
fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat
banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan ganggang ini berwarna merah
(Suroso,1992).
Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali
fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat
mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke
klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses
fotosintesis (Atmadja,1996).
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu
suatu karbohidrat dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam
sitoplasma dan di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula
floridasida galaktosida dan gliserol (Fitria,2010).
Dinding sel terdiri dari selulosa dan
polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan
yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini
sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan
stabilizer (Latifah,2004).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual,
yaitu dengan cara membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi
seksualnya belum banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya
terdapat reproduksi aseksual dan seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini
tidak berflagel yang disebut spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa
oleh arus air, kemudian melekat pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah
itu inti dari masing-masing sel kelamin bersatu dan membentuk zigot
(Latifah,2004).
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan studi lapangan mengenai keanekaragaman
alga di zona pasang surut air laut yang telah dilakukan dapat di temukan
beberapa spesies yang terdiri dari beberapa divisi. Dan pada studi lapangan ini
praktikan membahas mengenai alga dengan divisi Rhodophyta, kelas Rhodophyceae
dan beberapa spesies yaitu Actinotrichia fragilis, Amphiroa beauvoisil,
Calliblepharis fimbriata . Dimana spesies alga tersebut memiliki
ciri-ciri dan peranan yang berbeda-beda, yaitu:
1. Actinotrichia fragilis, memiliki
warna merah,memiliki holdfast,memiliki stipe dan blade yang tidak bisa di bedakan.
Struktur talus pipih, kaku, tipis dan membentuk rumpun rimbun dengan
percabangan dichotomus (mendua arah), melekat pada substrat dengan alat tempel
(holdfast) yang kecil berbentuk cakram dan berhabitata di air laut. Peranan
alga inidapat digunakan dalam bidang industri,makanan, obat-obatan dan energi.
2.Amphiroa beauvoisil,memiliki warna
merah, memiliki holdfast, memiliki stipe dan blade yang tidak bisa dibedakan.
Struktur talus kaku dan keras karena mengalami pengapuran yang tebal, tersusun
oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik, melekat pada substrat
dengan semacam serabut cakram dan berhabitat di air laut. Alga ini berfungsi
sebagai sumber makanan bagi berbagai jenis fauna yang menghasilkan endapan
kapur yang berguna bagi pertumbuhan karang di daerah tropis untuk ikut
memperkuat fondasi terumbu karang tersebut.
3. Calliblepharis fimbriata, memiliki
warna merah, memiliki holdfast,memilki stipe dan blade yang tidak dapat
dibedakan. Struktur talus tipis dan memiliki bentuk seperti lembaran atau
helaian daun dan terdapat bintik kecil pada talus serta berhabitat di air laut.
Alga ini berperan sebagain bahan makanan dan dapat menghasilkan
oksigen yang dibutuhkan oleh manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Atmadja, W.S. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut di
Indonesia. Jakarta: Puslitbang Oseanologi
LIPI
Aziz, Abdul. 2008. Dan
AlampunBertasbih. Jakarta: BalaiPustaka
Bold, H.C. and M.J. Wyne.1985. Introduction to The Algae:
Structure and Reproduction. 2nd ed.
Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs
Estiati,B.Hidayat.1995. Taksonomi Tumbuhan (Cryptogamae).
Bandung : ITB Bandung
Fitria, eka. 2010. Panduan Pratikum Taksonomi Tumbuhan
(Cryptogamae). Cirebon: Pusat
Laboratorium IAIN Syaih Nurjati
Hadiansya. 2010. Kunci Determinasi
Alga Laut. Bandung :Prodi Pendidikan UIN SGD
Kepel. Rene Ch. Dkk.2011.Pacific Journal. Komunitas Alga Makro
Di Perairan Pesisir Namano dan
Waisisil, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Vol.3 No.6: 1192-1196
Langoy. Marnix L.D.dkk.2011.Jurnal Ilmiah Sains.Deskripsi
Alga Makro Di Taman Wisata Alam
Batuputih, Kota Bitung.Vol. 11 No.2
Latifa, eka.2004. Biologi 2.
Bandung:Remaja Rosda Karya
Pitriana, Pipit. 2008. Bio
EkspoMenjelajahDuniaDenganBiologi. Solo: Jatra
Graphic.
Sheehan, J., Dunahay, T., Benemann,
J., Roessler, P.1998.A look Back at The U.S. Department
of Energy’s Aquatic Species Program : Biodiesel from Algae. Colorado.USA.
Suroso, A.Y. 1992. Pengantr
Cryptogamae (Sistematik Tumbuhan Rendah). Bandung : TARSITO
Sulisetijono, 2009.BahanSerahan
Alga. Malang: UIN Press



Tidak ada komentar:
Posting Komentar