Kamis, 22 November 2012

Tugas KKL



LAPORAN
KULIAH KERJA LAPANGAN
TAKSONOMI TUMBUHAN RENDAH
ALGA

Dosen Pengampu :
1.      Drs. Sulisetjono, M.Si
2.      Ainun Nikmati Laily, M.Si




Oleh ;
Novi Ainiatus Sholihah M
11620027









JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS dan TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
2012







BAB I
PENDAHULUAN


1.1      LATAR BELAKANG
Indonesia merupakan Negara yang memiliki keanekaragaman hayati yang melimpah baik flora maupuan fauna, keanekaragaman hayati dapat memberikan manfaat  bagi masyarakat, diantaranya dapat memenuhi kebutuhan manusia yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral. Protein sebagai salah satu sumber pembagun tubuh dapat berasal dari tumbuhan (nabati) dan hewan (hewani).
Dalam mengetahui klasifikasi, taksonomi, kekerabatan dan asal-usul suatu makhluk hidup diperlukan sistematika. Disini kami khusus mempelajari tumbuhan Cryptogamae. Tumbuhan Cryptogamae adalah tumbuhan tingkat rendah yang alat perkembiakannya tersembunyi dan reproduksinya dengan spora. Sehingga sistematika yang kami pelajari yaitu sistematika Tumbuhan Cryptogamae. Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yaitu di dalamnya terdapat klasifikasi, taksonomi, kekerabatan, asal-usul tumbuhan Cryptogamae. Ilmu yang mempelajari teori dan prinsip, prosedur dan peraturan klasifikasi disebut dengan toksonomi.
Secara khusus penelitian ini membahas tentang ganggang (alga). Tumbuhan ganggang (Algae) merupakan tumbuhan talus yang hidup di air, baik air tawar maupun air laut, setidak-tidaknya selalu menempati habitat yang lembab atau basah.
Tumbuhan talus ialah tubuh tumbuhan yang belum dapat dibedakan dalam tiga bagian utamanya, yang disebut akar, batang dan daun. Tubuh yang berupa talus itu mempunyai struktur dan bentuk dengan variasi yang sangat besar. Tumbuhan yang memiliki ciri utama berbentuk talus dimasukkan ke dalam Divisi Thallophyta.
Untuk mempelajari  Sistematika Tumbuhan Cryptogamae yang dalam hal ini Divisi Algae,  baik secara morfologi maupun habitat, perlu diadakannya pengamatan secara langsung terhadap objek yang akan diteliti dengan KKL (Kuliah Kerja Lapangan), sehinggga mahasiswa dapat lebih mudah untuk mengidentifikasi baik ciri–ciri mofologi (penampakan luar) maupun habitatnya, dalam hal ini maka Kuliah Kerja Lapangan  dengan mengamati spesies–spesies tumbuhan dari Divisi Algae di Pantai Selatan yang dikenal dengan Pantai Kondangmerak sebagai Kuliah Kerja Lapangan (KKL) secara terorganisir.
Pentingnya dilakukannya Kuliah Kerja Lapangan (PKL) Sistematika Tumbuhan Cryptogamae secara terorganisir adalah agar mahasiswa  mengetahui tumbuhan-tumbuhan tingkat rendah dari Sub Divisi Algae secara langsung untuk diamati bagian-bagian dan ciri-ciri khususnya kemudian digunakan sebagai acuan dalam mengidentifikasi. Selain itu agar mahasiswa mengetahui warna, bentuk dan habitat asli dari Sub Divisi Algae karena pada waktu praktikum di laboratorium warna dan bentuk preparat sudah berubah karena sudah diawetkan, sehingga kami harus melihat preparat yang morfologi dan habitat dalam bentuk aslinya.
Kuliah kerja Lapangan terorganisir dilaksanakan di Kondangmerak Pantai Selatan. Pemilihan tempat ini karena wilayah yang relatif terdekat dengan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan sebagai pantai yang masih memilliki keanekaragaman tumbuhan algae yang relatif lengkap dengan berbagai macam spesies-sesies karena wilayahnya yang masih lestari dan belum banyak terjamah tangan manusia.


1.2     Tujuan
Tujuan dari penelitian kuliah kerja lapangan ini adalah sebagai :
Studi lapangan beranekaragam alga yang berhabitat di zona pasang surut Pantai Kondangmerak Malang Selatan


1.3     Manfaat
Manfaat-manfaat yang dapat di ambil dari penelitian kuliah kerja lapangan ini adalah :
1.       Untuk mengetahui dalam  mempelajari morfologi dan kedudukan taksonomi dari Sub Divisi Algae.
2.    Untuk mengenal species yang termasuk dalam Divisi Algae dengan cara mendiskripsikan ciri-ciri pada spesies tersebut.
3.       Dapat mengerti secara langsung habitat dari tumbuhan algae dan bagaimana cara tumbuhan algae untuk bertahan hidup



BAB II
METODOLOGI

2.1     Waktu dan Tempat
Penelitian  ini dilaksanakan pada hari Sabtu-Minggu Tanggal 17-18 November 2012 Di Kondangmerak Pantai Malang Selatan.

2.2     Alat dan Bahan
2.2.1 Alat
Alat-alat yang digunakan dalam kuliah kerja lapangan (KKL) ini adalah :
1.      Alat tulis
2.      Alat dokumentasi
3.      Ice box
4.      Toples
2.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam kuliah kerja lapangan (KKL) ini adalah :
1.      Es
2.      Label
3.      Larutan Herbarium
2.2.3 Cara Kerja
Langkah-langkah kerja yang dilakukan dalam Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ini adalah :
1.         Menyiapkan alat yang diperlukan saat praktikum dan memastikan bahwa peralatan yang digunakan masih berfungsi normal.
2.         Menguasai cara penggunaan alat.
3.         Mendengarkan instruksi dan arahan dari asisten / dosen pendamping.
4.         Pengambilan spesimen :
1.   Berjalan ke lokasi pengambilan specimen dengan hati-hati secara berkelompok dengan didampingi oleh asisten pendamping yang telah ditetapkan.
2.   Mengamati specimen yang ditemukan dan mencatat ciri-cirinya. (meliputi: suhu, pH tanah dan kelembapan, kelembapan udara, ketinggian tempat, habitat, habitus/ perawakan) dengan cermat serta mencatat namanya.
3.   Mengambil gambar specimen dengan kamera yang ditemukan pada tempat melekatnya atau substrat.
4.   Memberi label tertentu dan mencatat ciri-cirinya pada specimen yang tidak diketahui namanya.
5.   Memasukkan specimen seperti jamur, lumut ke dalam vacuum box, dan tumbuhan paku ke dalam kantung plastik.
6.   Pengidentifikasian :
1.         Direndam alga di dalam larutan fiksatif yang telah ditambah larutan tembaga sulfat
2.         Direndam selama 48 jam dalam larutan fiksatif (untuk menfisasi)
3.         Ditambahkan larutan tembaga sulfat untuk mempertahankan warna yaitu tembaga sulfat 0,2 gram dan aquades 35 ml
4.         Diisi toples dengan alcohol 70 % sebagai pengawet
5.         Dimasukkan alga
6.         Di tutup toples
7.         Hasil



BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

1.1         Actinotrichia fragilis (Forsskal)



Gambar pengamatan
Gambar literature

(Hadiansya,2010)
3.1.1 Keterangan Gambar :
1.      Thallus bulat mengeras permukaan kasar
2.      Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus (mendua arah)
3.      Melekat pada substrat
4.      alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram 
5.      Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang.



3.1.2 Klasifikasi Ilmiah (Hadiansya, 2010) :
Kingdom  Plantae
Divisi  Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Bangsa Nemaliales
Suku Galaxauraceae
Marga Actinotrichia
Jenis Actinotrichiafragilis 

 3.1.3 Pembahasan
Dalam kuliah kerja lapangan di Pantai Kondangmerak ini di dapatkan banyak sekali spesies-spesies alga yang dapat dijumpai, d antara sspesies-spesies yang dapat dijumpai tersebut adalah Actinotrichia fragilis. Cirri-ciri morfologi dari spesies alga ini adalah Thallus bulat mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang.
Menurut Fitria (2010),  Actinotrichia fragilis memiliki Thallus bulat mengeras permukaan kasar. Membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus (mendua arah). Melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram. Warna merah muda orange atau kadang-kadang pirang.
Habitat Actinotrichia fragilis ini Tumbuh pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang umumnya selalu terendam air (subtidal). Mempunyai sebaran yang luas. Contoh negara yang menjadi daerah penyebaran Actinotrichia fragilis (Forsskal) anatara lain adalah Djibouti, Jepang, Kenya, Madagascar, Mauritius, Reunion, Africa Selatan, Tanzania, Piliphina, Samudra Pasifik. Warna awal adalah merah setelah pengawetan menjadi cokelat muda (Lativah,2004).
Sejauh ini dari berbagai sumber yang telah dibaca Actinotrichia fragilis (Forsskal) masih belum ada yang memanfaatkan spesies ini. Karena mungkin belum ada yang mempelajari speises ini lebih jauh.
Actinotrichia fragilis berupa ganggang merah dengan cabang sebesar 1 mm. Ganggang ini memiliki panjang mencapai 6 cm. Ganggang ini hidup pada batu karang yang terletak dibagian laut yang lebih dalam. Actinotrichia di manfaatkan sebagai bahan makanan manusia, makanan ternak, sumber protein, dan sebagai obat antibiotik (Estiati,1995).
Actinotrichia fragilis merupakan salah satu spesies dari divisi Rhodophyta. Rhodophyta memiliki thallus yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel tunggal. Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida yang mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil, fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan ganggang ini berwarna merah (Suroso,1992).
Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses fotosintesis (Atmadja,1996).
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu suatu karbohidrat dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam sitoplasma dan di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula floridasida galaktosida dan gliserol (Fitria,2010).
Dinding sel terdiri dari selulosa dan polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan stabilizer (Latifah,2004).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual, yaitu dengan cara membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi seksualnya belum banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya terdapat reproduksi aseksual dan seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini tidak berflagel yang disebut spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa oleh arus air, kemudian melekat pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah itu inti dari masing-masing sel kelamin bersatu dan membentuk zigot (Latifah,2004).


3.2         Amphiroa beauvoisii Lamouroux
Gambar pengamatan
Gambar literature
Description: J:\DCIM\100MSDCF\DSC00850.jpg
(Hadiansya,2010)
3.2.1 Keterangan Gambar :
1.      Alge tumbuh tegak
2.      melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram
3.      warna merah
4.      tinggi kurang dari 10 cm
5.      Thalli mengalami pengapuran yang tebal
6.      tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik

3.2.2 Klasifikasi Ilmiah (Hadiansya, 2010) :
Kingdom  Plantae
Divisi  Rhodophyta
Kelas Rhodophyceae
Bangsa Cryptonemiales

Suku Corallinaceae
Marga Ammphiroa
Jenis Amphiroa beuviosii

3.2.3 Pembahasan
Dalam kuliah kerja lapangan di Pantai Kondangmerak ini di dapatkan banyak sekali spesies-spesies alga yang dapat dijumpai, d antara sspesies-spesies yang dapat dijumpai tersebut adalah Amphiroa beuviosii. Cirri-ciri morfologi dari spesies alga ini adalah Ciri-ciri umum. Alge tumbuh tegar melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram, warna merah, tinggi kurang dari 10 cm. Thalli mengalami pengapuran yang tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik, semakin ke ujung semakin meruncing.
Habitat  Amphiroa beuviosii Hidup di zona pasang surut bagian tengah hingga subtidal. Menempel pada batu karang atau pecahan karang mati. Sering sebagai alge asosiasi pada padang Halimeda. Sebaran. Asli sebagai alge tropis. Mudah ditemukan di perairan kepulauan Nusantara (Fitria,2010).
Amphiroa beuviosii merupakan salah satu spesies dari divisi Rhodophyta. Rhodophyta memiliki thallus yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel tunggal. Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida yang mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil, fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan ganggang ini berwarna merah (Suroso,1992).
Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses fotosintesis (Atmadja,1996).
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu suatu karbohidrat dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam sitoplasma dan di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula floridasida galaktosida dan gliserol (Fitria,2010).
Dinding sel terdiri dari selulosa dan polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan stabilizer (Latifah,2004).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual, yaitu dengan cara membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi seksualnya belum banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya terdapat reproduksi aseksual dan seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini tidak berflagel yang disebut spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa oleh arus air, kemudian melekat pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah itu inti dari masing-masing sel kelamin bersatu dan membentuk zigot (Latifah,2004).
1.1         Calliblepharis fimbriata

Gambar pengamatan
Gambar literature
Description: J:\DCIM\100MSDCF\DSC00849.jpg
(Hadiansya,2010)
3.1.1        Keterangan Gambar :
1.      Thallus kenyal berbentuk lembaran
2.      Tepi Thallus bergerigi
3.      Melekat pada substrat
4.      alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram.
5.      Berwarna merah dan berubah warna menjadi coklat bila telah mengalami pewarnaan


3.1.2 Klasifikasi Ilmiah (Hadiansya, 2010) :
Kingdom  Plantae
Divisi  Rhodophyta
Kelas Florydeophyceae
Bangsa Gigartinales
Suku Cystocloniaceae
Marga Challiblepharis
Jenis Challiblepharis fimbriata
3.1.3 Pembahasan
Dalam kuliah kerja lapangan di Pantai Kondangmerak ini di dapatkan banyak sekali spesies-spesies alga yang dapat dijumpai, diantara sspesies-spesies yang dapat dijumpai tersebut adalah  Challiblepharis fimbriata. Ciri-ciri morfologi dari alga ini adalah Thallus kenyal berbentuk lembaran, Tepi Thallus bergerigi, Melekat pada substrat, alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram, Berwarna merah dan berubah warna menjadi coklat bila telah mengalami pewarnaan.
Habitat Challiblepharis fimbriata ini Tumbuh pada karang batu mati di rataan terumbu atau di padang lamun yang umumnya selalu terendam air (subtidal). Mempunyai sebaran yang luas. Contoh negara yang menjadi daerah penyebaran Challiblepharis fimbriata (Forsskal) anatara lain adalah Djibouti, Jepang, Kenya, Madagascar, Mauritius, Reunion, Africa Selatan, Tanzania, Piliphina, Samudra Pasifik. Warna awal adalah merah setelah pengawetan menjadi cokelat muda (Lativah,2004).
Sejauh ini dari berbagai sumber yang telah dibaca Challiblepharis fimbriata (Forsskal) masih belum ada yang memanfaatkan spesies ini. Karena mungkin belum ada yang mempelajari speises ini lebih jauh.
Challiblepharis fimbriata berupa ganggang merah dengan cabang sebesar 1 mm. Ganggang ini memiliki panjang mencapai 6 cm. Ganggang ini hidup pada batu karang yang terletak dibagian laut yang lebih dalam. Actinotrichia di manfaatkan sebagai bahan makanan manusia, makanan ternak, sumber protein, dan sebagai obat antibiotik (Estiati,1995).
Actinotrichia fragilis merupakan salah satu spesies dari divisi Rhodophyta. Rhodophyta memiliki thallus yang bersel banyak (multiseluler), hanya beberapa jenis yang bersel tunggal. Thallus mempunyai bentuk yang beranekaragam. Sel memiliki plastida yang mengandung klorofil a, d, dan pigmen fotosintetik lainnya yaitu xantofil, fikobiliprotein (fikoeritrin dan fikosianin). Jumlah kedua pigmen ini sangat banyak sehingga menutupi klorofil dan menyebabkan ganggang ini berwarna merah (Suroso,1992).
Semua pigmen berada dalam tilakoid kecuali fikobiliprotein yang terdapat pada bagian permukaan. Pigmen-pigmen ini dapat mengabsorpsi cahaya energi matahari yang kemudian cahaya itu ditransfer ke klorofil a, sehingga adanya pigmen ini mempunyai pengaruh langsung dalam proses fotosintesis (Atmadja,1996).
Cadangan makanan berupa tepung floridae, yaitu suatu karbohidrat dalam bentuk butiran-butiran kecil yang tersimpan dalam sitoplasma dan di luar plastid. Pada beberapa alga juga terdapat gula floridasida galaktosida dan gliserol (Fitria,2010).
Dinding sel terdiri dari selulosa dan polisakarida yang menyerupai lender. Polisakarida ini adalah agar dan keragenan yang menyusun 70% dari berat kering dinding sel. Komponen dinding sel ini sangat menarik dan memiliki nilai komersiil yang sangat tinggi sebagai bahan stabilizer (Latifah,2004).
Reproduksi pada jenis primitif secara aseksual, yaitu dengan cara membelah sel atau dengan spora, sedangkan reproduksi seksualnya belum banyak diketahui. Pada jenis-jenis yang lebih maju umumnya terdapat reproduksi aseksual dan seksual. Sel kelamin jantan dari alga ini tidak berflagel yang disebut spermatium. Spermatium ini secara pasif terbawa oleh arus air, kemudian melekat pada alat kelamin betina (karpogonium). Setelah itu inti dari masing-masing sel kelamin bersatu dan membentuk zigot (Latifah,2004).


BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
          Berdasarkan studi lapangan mengenai keanekaragaman alga di zona pasang surut air laut yang telah dilakukan dapat di temukan beberapa spesies yang terdiri dari beberapa divisi. Dan pada studi lapangan ini praktikan membahas mengenai alga dengan divisi Rhodophyta, kelas Rhodophyceae dan beberapa spesies yaitu Actinotrichia fragilis, Amphiroa beauvoisil, Calliblepharis fimbriata . Dimana spesies alga tersebut memiliki ciri-ciri dan peranan yang berbeda-beda, yaitu:
1. Actinotrichia fragilis, memiliki warna merah,memiliki holdfast,memiliki stipe dan      blade yang tidak bisa di bedakan. Struktur talus pipih, kaku, tipis dan membentuk rumpun rimbun dengan percabangan dichotomus (mendua arah), melekat pada substrat dengan alat tempel (holdfast) yang kecil berbentuk cakram dan berhabitata di air laut. Peranan alga inidapat digunakan dalam bidang industri,makanan, obat-obatan dan energi.
2.Amphiroa beauvoisil,memiliki warna merah, memiliki holdfast, memiliki stipe dan blade yang tidak bisa dibedakan. Struktur talus kaku dan keras karena mengalami pengapuran yang tebal, tersusun oleh deretan segmen-segmen berbentuk seperti manik-manik, melekat pada substrat dengan semacam serabut cakram dan berhabitat di air laut. Alga ini berfungsi sebagai sumber makanan bagi berbagai jenis fauna yang menghasilkan endapan kapur yang berguna bagi pertumbuhan karang di daerah tropis untuk ikut memperkuat fondasi terumbu karang tersebut.
3. Calliblepharis fimbriata, memiliki warna merah, memiliki holdfast,memilki stipe dan blade yang tidak dapat dibedakan. Struktur talus tipis dan memiliki bentuk seperti lembaran atau helaian daun dan terdapat bintik kecil pada talus serta berhabitat di air laut. Alga ini berperan sebagain bahan makanan dan dapat menghasilkan oksigen yang dibutuhkan oleh manusia.


DAFTAR PUSTAKA

Atmadja, W.S. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut di Indonesia. Jakarta: Puslitbang             Oseanologi LIPI
Aziz, Abdul. 2008. Dan AlampunBertasbih. Jakarta: BalaiPustaka
Bold, H.C. and M.J. Wyne.1985. Introduction to The Algae: Structure and Reproduction. 2nd           ed. Prentice Hall, Inc., Englewood Cliffs
Duxbury, A.C and A.B. Fuxbury.1989. Oceans and introduction to the world. Wm. C.         Publisher, USA.
Estiati,B.Hidayat.1995. Taksonomi Tumbuhan (Cryptogamae). Bandung : ITB Bandung
Fitria, eka. 2010. Panduan Pratikum Taksonomi Tumbuhan (Cryptogamae). Cirebon: Pusat
Laboratorium IAIN Syaih Nurjati
Hadiansya. 2010. Kunci Determinasi Alga Laut. Bandung :Prodi Pendidikan UIN SGD
Kepel. Rene Ch. Dkk.2011.Pacific Journal. Komunitas Alga Makro Di Perairan Pesisir         Namano dan Waisisil, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Vol.3 No.6:      1192-1196
Langoy. Marnix L.D.dkk.2011.Jurnal Ilmiah Sains.Deskripsi Alga Makro Di Taman Wisata Alam Batuputih, Kota Bitung.Vol. 11 No.2
Latifa, eka.2004. Biologi 2. Bandung:Remaja Rosda Karya
Pitriana, Pipit. 2008. Bio EkspoMenjelajahDuniaDenganBiologi. Solo: Jatra           
Graphic.
Sheehan, J., Dunahay, T., Benemann, J., Roessler, P.1998.A look Back at The U.S. Department of Energy’s Aquatic Species Program : Biodiesel from Algae.        Colorado.USA.
Suroso, A.Y. 1992. Pengantr Cryptogamae (Sistematik Tumbuhan Rendah). Bandung : TARSITO
Sulisetijono, 2009.BahanSerahan Alga. Malang: UIN Press